Empat Skincare FF UNAIR Bawa Hasil Riset Farmasi ke Pasar
Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (FF UNAIR) mendorong hasil penelitian kampus masuk ke tahap pemanfaatan yang lebih luas melalui peluncuran empat produk skincare. Inovasi tersebut diperkenalkan pada peringatan Dies Natalis ke-63 FF UNAIR di Kampus MERR-C, Minggu, 20 September 2026.
Baca Juga “Olivia Culpo’s Nighttime Skincare Routine | Go To Bed With Me | Harper’s BAZAAR Detention (EqbyHWSqDJ)“
Empat produk itu merupakan hasil pengembangan riset di bidang teknologi kulit dan kosmetik. Pengembangannya dilakukan melalui Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi Skin and Cosmetic Technology (PUI-PT SCT).
Peluncuran produk menjadi bagian dari upaya UNAIR mempercepat hilirisasi penelitian. Kampus tidak hanya mendorong peneliti menghasilkan publikasi, tetapi juga mengembangkan temuan akademik menjadi produk yang dapat digunakan oleh masyarakat.
Rektor UNAIR Prof. Dr. Madyan, SE, MSi, MFin meresmikan peluncuran tersebut bersama Dekan FF UNAIR Prof. apt. Dewi Melani Hariyadi, SSi, MPhil, PhD serta inventor produk Prof. Dr. apt. Tristiana Erawati Munandar, MSi.
Empat Produk Dikembangkan dari Riset Teknologi Kosmetik
Produk yang diperkenalkan FF UNAIR terdiri dari empat varian dengan fungsi perawatan kulit yang berbeda. Rangkaian tersebut mencakup NLC Astrabright Advanced Anti-Aging Serum, Sains4Skin Ultra Hydrating Body Soap, Sains4Skin Astrabright Facial Wash, dan Sains4Skin Q10 Radiant Sun Shield.
Menurut Prof. Tristiana Erawati Munandar, seluruh produk dikembangkan dengan pendekatan penelitian. Pengembangan tersebut diarahkan untuk menghasilkan formulasi yang dapat memberikan manfaat perawatan sekaligus perlindungan bagi kulit.
Salah satu teknologi utama yang digunakan adalah Nanostructured Lipid Carriers atau NLC. Sistem penghantaran berbasis nano tersebut digunakan dalam pengembangan formulasi untuk membantu mengoptimalkan penggunaan bahan aktif.
Teknologi tersebut menjadi penting karena karakteristik beberapa bahan aktif dapat menjadi tantangan dalam proses penghantaran ke kulit. Melalui sistem NLC, peneliti berupaya meningkatkan kemampuan bahan aktif agar dapat bekerja secara lebih optimal.
Riset mengenai teknologi tersebut telah dikembangkan secara intensif sejak 2013. Penelitian yang berlangsung selama bertahun-tahun kemudian diarahkan menjadi formulasi yang dapat diterapkan dalam produk perawatan kulit.
NLC dan Coenzyme Q10 Menjadi Bagian dari Formulasi
Selain teknologi NLC, pengembangan produk juga memanfaatkan Coenzyme Q10 sebagai salah satu komponen antioksidan. Bahan tersebut digunakan dalam formulasi yang berkaitan dengan upaya menjaga kondisi kulit dari paparan radikal bebas.
Prof. Erawati menjelaskan bahwa teknologi penghantaran bahan aktif menjadi salah satu fokus dalam pengembangan skincare berbasis riset. Peneliti berupaya memastikan komponen yang digunakan dapat memberikan fungsi sesuai tujuan formulasi.
Rangkaian produk tersebut juga mengandung komponen pelembap. Penambahan bahan pelembap diarahkan untuk mendukung kenyamanan dan pemeliharaan kelembapan kulit dalam penggunaan sehari-hari.
Menurut Prof. Erawati, pengembangan produk dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan perawatan kulit masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi dasar dalam menggabungkan teknologi penghantaran bahan aktif, antioksidan, dan komponen pendukung lainnya.
Produk yang diluncurkan juga disebut telah melalui pengujian klinis. Dari sisi kesiapan teknologi, produk telah mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TRL) 9.
UNAIR Targetkan Lebih Banyak Produk Hasil Penelitian
Rektor UNAIR Prof. Dr. Madyan mengatakan kampus memiliki potensi penelitian yang besar untuk dikembangkan menjadi produk. UNAIR menghasilkan sekitar 3.200 publikasi ilmiah setiap tahun.
Jumlah publikasi tersebut menjadi salah satu indikator besarnya aktivitas riset di lingkungan kampus. Menurut Prof. Madyan, sebagian hasil penelitian tersebut dapat diarahkan menuju tahap hilirisasi dan komersialisasi.
Karena itu, UNAIR menargetkan sekitar 10 produk inovasi dapat diluncurkan pada tahun ini. Strategi tersebut berkaitan dengan upaya membangun ekosistem perguruan tinggi yang tidak berhenti pada kegiatan akademik.
“Riset yang kita lakukan harus mengarah pada hasil konkret berupa produk yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat,” ujar Prof. Madyan.
Bagi UNAIR, pengembangan produk hasil penelitian juga menjadi bagian dari visi menuju entrepreneurial university. Konsep tersebut menempatkan inovasi dan pemanfaatan hasil riset sebagai bagian penting dari pengembangan perguruan tinggi.
Kolaborasi Industri Mendukung Tahap Hilirisasi
Pengembangan produk berbasis riset membutuhkan proses panjang sebelum dapat menjangkau konsumen. Tahap tersebut mencakup pengembangan formula, pengujian, pemenuhan regulasi, produksi, hingga kesiapan distribusi.
Dalam proses tersebut, kerja sama antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi salah satu faktor pendukung. Industri dapat membantu membawa hasil penelitian melewati tahapan pengembangan produk hingga memasuki pasar.
Prof. Madyan menilai kemitraan tersebut memiliki peran penting dalam mempercepat hilirisasi penelitian. Ia menyebut produk yang diluncurkan telah memenuhi sejumlah persyaratan sebelum didistribusikan.
Keempat produk disebut telah memperoleh izin BPOM dan sertifikasi halal. Dengan capaian tersebut, hasil penelitian FF UNAIR memiliki landasan regulasi untuk dikembangkan dan dipasarkan secara lebih luas.
Peluncuran empat produk skincare ini sekaligus memperlihatkan arah baru pemanfaatan riset farmasi di lingkungan UNAIR. Penelitian yang dikembangkan sejak bertahun-tahun lalu kini diarahkan menjadi inovasi yang dapat hadir dalam kebutuhan perawatan kulit masyarakat.
Langkah tersebut berpotensi memperkuat rantai hilirisasi dari laboratorium menuju industri. Bagi perguruan tinggi, keberhasilan membawa penelitian ke tahap produk menjadi bagian penting dalam meningkatkan dampak nyata inovasi bagi masyarakat.
Baca Juga “OBAGI Medical Perluas Akses Medical-Grade Skincare, Gandeng SILK Skin Bali“