Jerawat Batu Tak Cukup Diatasi Skincare OTC, Ini Alasannya

Jerawat Batu

Jerawat Batu Tak Cukup Diatasi Skincare OTC, Ini Alasannya
Jerawat ringan dan jerawat dengan peradangan berat membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ketika jerawat berkembang menjadi nodul, kista, atau lesi bernanah, penggunaan produk perawatan kulit yang dijual bebas atau over the counter (OTC) belum tentu mencukupi.

Baca Juga “5 Skincare “SOS” Wajib Punya Saat Kualitas Udara Memburuk“

Dokter Spesialis Dermatologi, Venerologi, dan Estetika RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dr. Osdatilla Esa Putri, Sp.DVE, mengatakan jerawat dengan derajat berat perlu mendapatkan penanganan dari dokter spesialis kulit.

Penjelasan tersebut disampaikan dalam program Beauty Health bertajuk “Makan Gorengan Bikin Jerawatan? Fakta atau Mitos?” yang ditayangkan melalui YouTube Tribunnews dan Tribun Health pada Kamis (11/6/2026).

Jerawat Batu Termasuk Bentuk Acne dengan Peradangan Berat
Menurut dr. Osdatilla, tingkat keparahan acne secara umum dapat dibedakan menjadi ringan, sedang, dan berat. Perbedaan tersebut membantu dokter menentukan pendekatan penanganan yang sesuai dengan kondisi kulit pasien.

Jerawat berat dapat muncul dalam bentuk nodular atau kistik. Kondisi tersebut sering dikenal masyarakat sebagai jerawat batu karena lesinya cenderung lebih besar, dalam, dan meradang.

“Kalau derajat berat memang munculnya sudah seperti ada gambarannya jerawatnya nodular ataupun kistik ya seperti jerawat batu, bahkan ada pustul ataupun yang bernanah,” jelas dr. Osdatilla.

Jerawat dengan tingkat keparahan tersebut tidak selalu hanya muncul di wajah. Peradangan juga dapat terjadi pada area tubuh lain yang memiliki kelenjar minyak.

“Dan bisa jadi bukan hanya di wajah tapi sampai dada ataupun punggung,” ujarnya.

Mengapa Skincare OTC Bisa Tidak Cukup?
Produk OTC dapat membantu menangani sejumlah masalah jerawat ringan. Namun, kebutuhan terapi dapat berbeda ketika jerawat sudah mengalami peradangan berat atau membentuk nodul dan kista.

Menurut dr. Osdatilla, kondisi tersebut membutuhkan evaluasi dan terapi dari dokter spesialis kulit. Dokter dapat menentukan penanganan berdasarkan tingkat keparahan, lokasi, jumlah lesi, serta kondisi kulit pasien.

“Jadi itu emang harus diberikan terapi dari dokter spesialis, tidak cukup dengan produk-produk OTC yang ada gitu,” kata dr. Osdatilla.

Penanganan profesional juga penting karena jerawat yang meradang dan berada lebih dalam berisiko meninggalkan bekas. Pada sebagian pasien, peradangan yang berat dapat berkaitan dengan terbentuknya jaringan parut.

Jerawat Aktif Perlu Dikendalikan Sebelum Menangani Bekas
Penanganan jerawat berat tidak selalu langsung diarahkan pada prosedur untuk mengatasi bekas. Ketika lesi masih aktif, merah, dan bernanah, pengendalian peradangan menjadi salah satu prioritas.

Dr. Osdatilla menjelaskan bahwa dokter spesialis kulit dapat menggunakan obat sesuai kondisi pasien. Terapi dapat mencakup obat untuk mengatasi peradangan atau infeksi tertentu berdasarkan hasil pemeriksaan.

“Yang paling utama adalah penggunaan obat-obatan yang kita berikan dari spesialis kulit seperti antibiotik, anti peradangan, dan itu harus intens dulu,” jelasnya.

Jenis dan durasi obat tidak dapat disamaratakan untuk semua pasien. Dokter perlu menentukan terapi berdasarkan diagnosis dan kondisi masing-masing.

Karena itu, pasien sebaiknya tidak menggunakan antibiotik atau obat resep secara mandiri. Penggunaan obat tanpa evaluasi medis dapat menimbulkan risiko efek samping dan penggunaan terapi yang tidak sesuai.

Laser Lebih Tepat Dipertimbangkan Setelah Peradangan Mereda
Tindakan berbasis teknologi, termasuk laser, dapat menjadi bagian dari penanganan masalah bekas jerawat pada kondisi tertentu. Namun, prosedur tersebut bukan pengganti terapi utama ketika jerawat masih aktif dan mengalami peradangan.

Setelah kondisi peradangan terkendali, dokter dapat mengevaluasi masalah yang tersisa. Salah satunya adalah kemerahan pascaperadangan atau perubahan warna kulit akibat bekas jerawat.

“Setelah reda, laser itu dapat kita gunakan untuk menghilangkan bekasnya ataupun menghilangkan pasca-inflamasi eritemanya,” ujar dr. Osdatilla.

Pilihan prosedur tetap bergantung pada jenis bekas, kondisi kulit, serta hasil pemeriksaan dokter. Tidak semua pasien membutuhkan laser untuk menangani bekas jerawat.

Kenali Tanda Jerawat yang Membutuhkan Pemeriksaan Dokter
Jerawat yang semakin besar, dalam, nyeri, bernanah, atau muncul dalam jumlah banyak perlu mendapat perhatian lebih. Kondisi tersebut berbeda dengan komedo atau jerawat ringan yang biasanya dapat ditangani dengan perawatan dasar.

Jerawat yang menyebar hingga dada atau punggung juga dapat menjadi pertimbangan untuk berkonsultasi. Terlebih jika kondisi tersebut tidak membaik dengan perawatan yang sudah dilakukan.

Pemeriksaan dokter membantu menentukan tingkat keparahan dan pilihan terapi. Langkah tersebut juga dapat membantu mencegah pasien mencoba berbagai produk secara bergantian tanpa mengetahui penyebab masalah kulit.

Penanganan Dini Membantu Mengendalikan Jerawat Berat
Jerawat batu dan jerawat bernanah bukan sekadar persoalan penampilan. Peradangan yang lebih berat membutuhkan penilaian untuk menentukan terapi yang sesuai dan mengurangi risiko masalah kulit lanjutan.

Skincare OTC tetap dapat menjadi bagian dari rutinitas perawatan kulit pada kondisi tertentu. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan tingkat keparahan acne dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter ketika kondisi sudah berat.

Pendekatan yang tepat dimulai dengan mengenali jenis dan tingkat keparahan jerawat. Ketika muncul nodul, kista, atau peradangan berat, konsultasi dengan dokter spesialis kulit dapat membantu menentukan langkah penanganan yang lebih tepat.

Baca Juga “Makeup Sekaligus Skincare! Intip Kehebatan NAD+ Complex di SKINTIFIC Foundation Baru“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *