Remaja Pakai Skincare Anti-Aging, Apakah Perlu?

Anti-Aging

Tren Remaja Menggunakan Skincare Anti-Aging, Apakah Benar-Benar Dibutuhkan?

Penggunaan skincare anti-aging kini tidak hanya populer di kalangan orang dewasa. Banyak remaja usia belasan tahun mulai memakai produk penahan penuaan dini setelah terpengaruh tren media sosial dan konten kecantikan digital. Padahal, dokter kulit menilai penggunaan produk tersebut belum tentu diperlukan pada usia muda.

Baca Juga “Doktif Desak Polisi Periksa Istri Richard Lee Soal Aliran Dana Skincare

Fenomena ini menjadi sorotan dalam talkshow Canisius Health Expo 2026 yang digelar di Jakarta pada Minggu, 24 Mei 2026. Dalam acara tersebut, pendiri klinik kecantikan Dermalogia, dr. Arini Astasari Widodo, menjelaskan bahwa struktur kulit remaja sebenarnya masih berada dalam kondisi optimal.

Kulit Remaja Masih Memproduksi Kolagen Secara Maksimal

Menurut dr. Arini, kulit pada usia belasan tahun masih mampu memproduksi kolagen dengan sangat baik. Karena itu, penggunaan skincare anti-aging untuk mencegah kerutan dinilai belum menjadi kebutuhan utama.

Ia menjelaskan bahwa bahan aktif anti-aging memang tidak selalu berbahaya. Namun, pemakaiannya pada remaja sering kali tidak relevan dengan kondisi biologis kulit mereka.

“Pada dasarnya, bahan yang dikhususkan buat anti-aging bisa jadi tidak berbahaya. Akan tetapi, penggunaan anti-aging di anak umur belasan tahun tidak perlu,” ujar dr. Arini dalam sesi diskusi kesehatan tersebut.

Media Sosial Memicu Kesalahpahaman tentang Penuaan Dini

Tren penggunaan skincare anti-aging pada remaja disebut dipengaruhi edukasi yang kurang tepat di media sosial. Banyak konten kecantikan membuat remaja percaya bahwa pencegahan kerutan harus dimulai sejak sangat muda.

Padahal, di usia sekitar 15 tahun, proses regenerasi kulit masih berlangsung cepat dan alami. Penggunaan terlalu banyak produk skincare justru berpotensi meningkatkan paparan bahan aktif yang belum dibutuhkan kulit.

Dr. Arini mengingatkan bahwa setiap produk skincare mengandung bahan kimia tertentu. Jika digunakan tanpa kebutuhan jelas, risiko iritasi dan kerusakan lapisan pelindung kulit bisa meningkat.

“Setiap skincare banyak bahan kimia. Kalau tidak perlu, untuk apa?” kata dr. Arini.

Retinol Bisa Digunakan Remaja untuk Mengatasi Jerawat

Meski anti-aging tidak dianjurkan untuk tujuan pencegahan kerutan pada remaja, beberapa bahan aktif tetap dapat digunakan dalam pengawasan dokter. Salah satunya adalah retinol.

Bahan turunan vitamin A tersebut sering diresepkan dokter kulit untuk membantu mengatasi komedo, bruntusan, dan jerawat pada masa pubertas. Penggunaannya bertujuan mempercepat regenerasi sel kulit dan membersihkan pori-pori yang tersumbat minyak.

“Retinol di umur 15 tahun bisa sangat bermanfaat untuk anak yang kulitnya bruntusan atau banyak komedo,” jelas dr. Arini.

Ia menambahkan bahwa beberapa ingredients memang memiliki fungsi ganda. Selain dikenal sebagai bahan anti-aging, kandungan tersebut juga efektif untuk terapi masalah kulit remaja jika digunakan dengan dosis yang tepat.

Remaja Disarankan Fokus pada Basic Skincare

Dokter kulit menyarankan remaja lebih fokus pada basic skincare dibanding memakai terlalu banyak produk aktif. Rutinitas sederhana dinilai sudah cukup untuk menjaga kesehatan kulit pada usia muda.

Tahapan dasar tersebut meliputi membersihkan wajah, menggunakan pelembap, dan memakai sunscreen setiap hari. Langkah ini membantu menjaga skin barrier tetap sehat tanpa memberikan beban berlebihan pada kulit.

Selain itu, penggunaan sunscreen secara rutin juga penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet yang dapat memicu kerusakan kulit jangka panjang.

Konsultasi Dokter Penting Sebelum Memilih Skincare

Dr. Arini menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter kulit sebelum menggunakan produk skincare tertentu. Banyak remaja memilih produk hanya berdasarkan tren media sosial tanpa memahami kebutuhan kulit mereka sendiri.

Kondisi tersebut berisiko memperburuk masalah kulit, terutama jika produk yang digunakan tidak sesuai dengan jenis kulit atau kandungan aktifnya terlalu kuat.

“Karena yang banyak terjadi adalah pemilihannya salah. Tidak sesuai dengan problem masalah kulitnya,” pungkas dr. Arini.

Tren skincare di kalangan remaja diperkirakan masih akan terus berkembang seiring meningkatnya pengaruh media sosial dan industri kecantikan. Karena itu, edukasi tentang penggunaan skincare yang tepat menjadi penting agar remaja dapat merawat kulit secara aman dan sesuai kebutuhan usia mereka.

Baca Juga “Mengenal Timeless Glow, Tren Kulit Glowing Alami dan Sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *