Dermatolog: Jangan Asal Beli Skincare Etiket Biru

dermatolog

Dermatolog Ingatkan Bahaya Skincare Etiket Biru: Risiko Ketergantungan dan Efek Fatal

Penggunaan krim etiket biru yang mengandung steroid dan hidrokuinon semakin populer di Indonesia karena memberikan efek instan pada kulit wajah. Namun, para dermatolog menekankan bahwa pemakaian jangka panjang tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan ketergantungan, iritasi parah, bahkan perubahan warna kulit yang permanen.

Desty (34), warga Jakarta Selatan, membagikan pengalamannya menggunakan krim etiket biru selama 10 tahun, sejak 2013 hingga 2023. Ia mengaku ketergantungan muncul seiring waktu, sehingga sulit untuk menghentikan pemakaian meski sudah diperingatkan apoteker. “Saya baru sadar bahaya krim itu ketika mulai mencari informasi di internet. Ternyata kandungannya, sinolon, adalah steroid yang bisa menyebabkan ketergantungan,” kata Desty.

Baca Juga “Wanita Jaksel Breakout Parah, Alami Gejala Ini Pasca Stop Skincare Steroid

Ketergantungan Krim Etiket Biru dan Dampaknya

Setelah mencoba berhenti mendadak, Desty mengalami breakout parah. Kulit wajahnya menjadi kemerahan, terasa perih, bengkak, dan muncul urat-urat merah tipis. Kondisi ini bahkan mempengaruhi aktivitas sehari-hari. “Saya sampai mengurangi pekerjaan karena ingin fokus memulihkan kulit,” ujarnya.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Banyak pengguna krim etiket biru melaporkan iritasi, kulit tipis, rasa panas, dan perubahan warna setelah penggunaan steroid atau hidrokuinon jangka panjang. Efek jangka panjang termasuk post-inflammatory hyperpigmentation, yaitu kulit menjadi gelap setelah iritasi mereda.

Penjelasan Ahli Dermatologi

dr I Nyoman Darma, SpKK(K), menjelaskan bahwa krim etiket biru memang mengandung steroid atau hidrokuinon yang bukan obat terlarang, tetapi harus digunakan dengan resep dokter. Steroid dapat memberikan efek mencerahkan kulit dalam waktu singkat, namun risiko ketergantungan dan iritasi meningkat jika digunakan sembarangan.

“Hidrokuinon dosis tinggi, terutama di atas 5 persen, bisa menyebabkan iritasi parah. Kulit bisa merah, bengkak, dan setelah iritasi mereda, muncul flek hitam,” jelas dr Darma. Ia menekankan bahwa kulit yang tampak sehat dan cerah instan sering menipu, karena kerusakan dapat muncul di kemudian hari.

Alasan Populernya Skincare Etiket Biru

Salah satu faktor utama popularitas etiket biru adalah efek instan. “Orang Indonesia cenderung menginginkan hasil cepat. Etiket biru memberikan sensasi kulit lebih cerah dalam waktu singkat dibanding skincare biasa,” ujar dr Darma.

Efek instan ini membuat pengguna sering mengabaikan risiko jangka panjang. Krim etiket biru menjadi pilihan karena hasil terlihat berbeda, meskipun harga atau risiko kesehatan tidak dijadikan pertimbangan utama.

Risiko Jangka Panjang dan Kesalahan Pemakaian

Selain iritasi dan perubahan warna kulit, penggunaan krim steroid tanpa kontrol dokter dapat menyebabkan kulit menipis, pembuluh darah terlihat jelas, dan peningkatan sensitifitas terhadap sinar matahari. Beberapa kasus bahkan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga tahun untuk memulihkan kulit.

Penggunaan mendadak atau berhenti tiba-tiba juga bisa memicu flare-up, berupa kemerahan, bengkak, dan breakout. Hal ini memperburuk kondisi kulit dan mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti yang dialami Desty.

Rekomendasi Dermatolog untuk Perawatan Kulit Aman

dr Darma menyarankan masyarakat memilih skincare yang terdaftar resmi dan aman untuk penggunaan jangka panjang. Penggunaan produk berbahan aman, dikombinasikan konsultasi dengan dermatolog, memberikan hasil optimal tanpa risiko ketergantungan atau kerusakan kulit.

Ia menambahkan, penting untuk memahami kandungan produk skincare. Hindari membeli produk yang menawarkan mencerahkan instan tanpa informasi jelas mengenai dosis dan komposisi bahan aktif. Edukasi dan kesadaran konsumen menjadi kunci agar kulit tetap sehat dan terhindar dari efek fatal krim etiket biru.

Kesimpulan

Penggunaan krim etiket biru memang bisa memberikan hasil instan, tetapi risiko jangka panjang jauh lebih besar. Ketergantungan, iritasi parah, kulit menipis, dan post-inflammatory hyperpigmentation menjadi efek yang umum terjadi.

Dermatolog menekankan bahwa keamanan kulit harus menjadi prioritas. Mengutamakan konsultasi medis, memilih produk resmi, dan memahami kandungan bahan aktif akan menjaga kesehatan kulit sekaligus memberikan hasil perawatan yang aman dan berkelanjutan.

Baca Juga “DRW Skincare Bagikan 50 Ribu Paket Sembako Gratis di Bulan Ramadan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *